Senin, 25 Januari 2010

Ibrahimovic Bicara soal Beda Inter dan Barca


Musim ini menjadi musim krusial bagi striker Zlatan Ibrahimovic. Di tengah sorotan publik sepak bola soal penampilannya yang belum maksimal, pemain Barcelona itu berusaha mengejar hasil terbaik.

Hingga hampir separuh musim berlalu, Ibrahimovic masih belum dapat menunjukkan kemampuan maksimalnya seperti yang pernah ia tunjukkan di Inter Milan. "El Barca" bahkan berada di ujung tanduk jika gagal meraih kemenangan di dua laga tearkhir penyisihan grup Liga Champions. Jika gagal, nama Ibra makin tenggelam.

Ibrahimovic juga tak bisa berkiprah di Piala Dunia 2010. Bersama timnas Swedia, Ibrahimovic harus mundur karena gagal menembus kualifikasi grup. Kini harapan satu-satunya adalah berjuang keras meraih piala paling bergengsi bersama "Blaugrana". Kepada FIFA.com, Ibrahimovic berbicara panjang lebar soal kondisinya di Barcelona, termasuk soal pelatih-pelatih kedua klub.

T: Zlatan, Anda telah jadi pemain kunci di Barcelona meski baru di klub beberapa bulan. Anda menduga cepat beradaptasi?
J: Aku tidak menduga musim ini bermula seperti ini. Aku ingin mengawalinya sebaik mungkin tapi kurasa butuh waktu untuk adaptasi. Anda biasanya tidak dapat mengerahkan semua kemampuan pada pekan pertama di klub baru. Namun, tim dan pelatihku banyak membantuku dan kini mereka masih melakukannya. Ketika Anda tampil di lapangan, bermain di antara pemain-pemain bertalenta ini berarti Anda hanya perlu khawatir apakah yang Anda lakukan benar. Lainnya datang dengan sendirinya.

Peran Anda di Inter lebih bebas, sementara di Barcelona tampaknya banyak taktik yang melarang posisi Anda?
Pertama, kami bermain 4-4-2 di Inter dan di sini formasi 4-3-3. Juga ada perbedaan besar dalam hal mentalitas kedua klub. Di sini aku bermain di depan sebagai nomor 9 tapi pelatih memberiku kebebasan untuk melebar ke kiri atau kanan, asalkan ada pemain sayap yang bisa mendukungku. Di Inter, aku lebih terisolasi, sehingga banyak ruang bagiku untuk bergerak dalam serangan.

Anda bermain di bawah pelatih-pelatih hebat di kedua tim. Apa beda Josep Guardiola dan Jose Mourinho dalam pendekatan mereka?
Perbedaan utama adalah Guardiola lebih aktif, maksudku dia menjelaskan banyak hal di lapangan. Maksudku, ketika dia menjelaskan sesuatu di tempat latihan dia dapat mendemonstrasikan secara fisik tentang apa yang ia maksud kaerna dia pernah jadi pemain kelas atas. Mourinho tidak pernah bermain di level tinggi, tapi keduanya punya sikap baik dan keinginan besar untuk sukses. Mereka berdua mampu menjelaskan sangat gamblang tentang apa yang mereka inginkan dan secara langsung kepada pemain. Keduanya sama-sama juara.

Bagaimana pendekatan mereka secara pribadi?
Kurasa keduanya punya hubungan baik dengan para pemain mereka, mereka sangat profesional. Aku tak bisa bilang untuk orang lain, tapi aku selalu mendapat perlakuan baik dari Mourinho. Sama seperti yang kulakukan dengan Pep.

Apakah rekan-rekan baru satu tim Anda membuat Anda terkejut?
Tidak, karena aku sudah tahu bagaimana permainan mereka. (Andres) Iniesta, (Lionel) Messi, (Thierry) Henry, (Yaya) Toure dan (Seydou) Keita sangat bagus di mana aku tahu semuanya tentang mereka bahkan sebelum aku bermain bersama mereka. Itu sebabnya aku tidak terlalu terkejut, sebuah kehormatan bermain bersama mereka.

Anda pernah bergabung di sebuah tim di mana harapannya sangat besar. Apakah Barca mampu mengulang prestasi treble musim lalu di La Liga, Copa del Rey dan Liga Champions?
Aku ingin memenangi semuanya, di mana pun aku bermain. Dengan begitu, mengulang treble akan jadi tugas besar. Itu memerlukan sebuah tim yang bermain di level puncak selama dua musim berturut-turut dan kurasa itu sangat sulit. Di sisi lain, kami sangat kuat secara mental dan kami telah mendapat banyak pengalaman musim lalu, jadi kenapa tidak?

Bagaimana Barcelona menjaga performa dalam sebuah standar, terutama kebutuhan fisik yang diminta?
Kami bekerja sangat keras. Ada keseimbangan bagus yang dibuat antara latihan dan pertandingan. Kami punya sekelompok spesialis di Barcelona yang mempersiapkan segalanya untuk memastikan bahwa kami tidak terlalu capek dan kami bertanding dalam performa prima. Ketika Anda bermain di level ini, Anda tahu bahwa laga tersebut akan sulit dan cepat, sehingga persiapan fisik yang tepat menjadi sangat penting.

Pada Desember, Anda dan tim akan ambil bagian dalam Piala Dunia Antarklub di Uni Emirat Arab. Apakah memenanginya memiliki arti bagi Anda?
Piala Dunia Antarklub adalah sesuatu yang ingin dimenangi oleh banyak pemain, dan masih menjadi kompetisi yang jarang diikuti. Barcelona kini punya peluang itu dan kami sangat bersemangat untuk itu. Alasan utama karena kami belum pernah memiliki trofi tersebut. Itu salah satu dari sasaran klub, pemain, dan penggemar musim ini.

Swedia tak lolos di Piala Dunia tahun depan, dapatkah turnamen bulan Desember ini menjadi kesempatan Anda untuk membuktikan pada diri sendiri di kancah dunia?
Sungguh mengecewakan gagal ke Piala Dunia bersama Swedia, jadi Piala Dunia Antarklub sangat penting bagiku. Aku menganggap setiap kompetisi yang kuikuti sebagai hal yang sangat vital, dan aku selalu ingin menang. Lebih-lebih di turnamen ini. Aku akan gembira berada di sana dan aku akan melakukan apa pun yang kubisa untuk membantu timku sukses.

Anda diplot bermain lawan klub lama Inter pekan ini. Apa perasaan Anda?
Inter adalah tim yang sangat bagus dan ini laga vital di mana kami tidak boleh melakukan kesalahan. Jika kami menang, kami akan mengendalikan grup. Sejauh ini kami tidak beruntung di Liga Champions. Itu laga besar bagiku dan aku dalam kondisi optimistis. Aku percaya hal tersebut akan berubah sesuai yang kuinginkan.

Selanjutnya pada Minggu 29 November ada "El Clasico" lawan Real Madrid.
Tentu saja itu duel yang sangat penting. Tidak hanya bagi kami, tapi bagi klub, suporter, bahkan bagi penggemar netral dan dunia secara umum. Kami bermain di kandang dan aku yakin kami akan menang.

Apakah mengulangi kemenangan 6-2 musim lalu di Bernabeu mungkin terjadi?
Aku tak tahu apakah duel itu akan menjadi sepihak, aku bahkan tidak memikirkan soal banyaknya gol yang kami cetak. Namun, Barcelona punya mentalitas sangat menyerang dan aku yakin kami akan menang dan mencetak banyak gol.

Maradona, Messi, dan Sang Mesias


SAAT Diego Armando Maradona menjadi pemain, dia memang seperti sihir. Punya kemampuan spesial, kewibawaan, juga kepribadian yang kuat. Meski sisi negatif hidupnya cukup memprihatinkan, tapi dia dianggap seperti "dewa" sepak bola negeri itu.

Maradona memang luar biasa. Dia membawa Argentina juara Piala Dunia Junior 1979. Kemudian, pada 1986 dia membawa Argentina juara Piala Dunia di Meksiko. Banyak orang menilai, ini show terbesar Maradona. Dia seolah beratraksi sendiri, sementara pemain lain menjadi figuran-figuran dari plot yang dia mainkan.

Itu memang kelebihan Maradona. Di masanya, pemain Argentina lainnya biasa-biasa saja. Tak ada keistimewaan besar pada Jorge Valdano, Sergio Batista, Hector Enrique, atau Jorge Burruchaga. Namun, dia mampu membuat permainan timnya menjadi hebat, punya keyakinan diri, juga mampu memenangkan kompetisi.

Demikian pula kala dia membela Napoli. Tak ada pemain hebat di klub itu, kecuali Maradona seorang. Bahkan, seorang Careca mengakui, "Tanpa Maradona saya tak bisa banyak berbuat."

Itu pula sebabnya, dia dianggap seperti dewa. Seperti seorang mesias (penyelamat) yang mampu membawa negaranya meraih kehormatan dan kebahagiaan. Apalagi, sukses Maradona terjadi seusai krisis Malvinas yang membuat rakyat Argentina menderita.

Rakyat Argentina pun menjadi memiliki kebutuhan akan seorang mesias seperti dia lagi. Selepas dia pensiun, kerinduan kepadanya pun semakin menggumpal. Hampir setiap pemain yang punya bakat berlebih, selalu dianggap Maradona baru, mulai dari Ariel Ortega, Pablo Aimar, Juan Roman Riquelme, sampai Carlos Tevez.

Namun, harapan itu selalu pupus. Tak ada yang benar-benar menyamai kemamppuan Maradona. Kini, harapan itu kembali membuncah dan rakyat Argentina percaya kepada Messi sebagai mesias (penyelamat) pengganti Maradona.

Messi dianggap mesias baru. Apalagi, kemampuan bermain bolanya memang mirip Maradona. Mereka sama-sama kuat di kaki kiri, jago dribel, bervisi luas, produktif mencetak gol, juga sulit dihentikan.

Ya, Messi memang pantas digadang sebagai Maradona baru. Di usianya yang baru 22 tahun, dia sudah menunjukkan permainan langka dan mematikan. Prestasi pun banyak dia tuai. Sejak melakukan debut bersama Barcelona pada musim 2004-05, dia langsung mempersembahkan tiga gelar Divisi Primera, dua gelar Liga Champions, dua Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, dan satu Piala Super Eropa.

Penghargaan pribadi pun bertaburan kepadanya, dari pemain terbaik junior, top skorer Piala Dunia U-20 sekaligus pemain terbaik, pemain terbaik di Argentina dan Spanyol, sampai terakhir meraih Ballon d'Or. Sebuah penghargaan yang sekaligus pengakuan bahwa dia Pemain Terbaik Eropa. Bahkan, dia juga difavoritkan bakal menerima penghargaan Pemain Terbaik Dunia versi FIFA.

Di tingkat klub, Messi memang luar biasa. Dia selalu mengorkestrasi permainan Barcelona. Bahkan, saat masih direcoki cedera pun, dia main bagus dalam partai bersar "El Clasico" lawan Real Madrid.

Namun, di Tim Nasional Argentina, sentuhan Messi masih belum seperti yang diharapkan. Permainannya belum sehebat saat membela Barcelona. Bahkan, Argentina pun nyaris tersingkir dari Piala Dunia, sebelum akhirnya menang lawan Uruguay.

Maradona dan Messi memang memiliki kemampuan istimewa. Tapi, ada sedikit perbedaan yang bisa sangat menentukan. Maradona punya kewibawaan besar, juga kharakter yang kuat. Sementara, Messi masih harus membangun kewibawaan itu. Itu sihir yang belum dimiliki Messi. Kehadiran Messi di lapangan tak serta-merta membuat rekannya seperti memiliki kekuatan ekstra.

Penghargaan Ballon d'Or rasanya harus memacu Messi untuk memenuhi harapan publik Argentina. Momennya paling tepat di Piala Dunia 2010 nanti. Ini pertaruhan besar buat reputasinya sebagai pengganti Maradona.

Messi mungkin lemah-lembut, tak meledak-ledak seperti Maradona. Tapi, itu bisa jadi kekuatannya. Tinggal bagaimana dia memanfaatkannya. Toh, dia punya mental dan ketenangan besar, seperti yang dimiliki Maradona.

Kebesaran Maradona karena mampu mengawinkan momen dan isu. Sebelumnya, dia selalu diisukan sebagai pemain hebat sedunia. Kemudian, dia mampu membuktikan isu itu di momen terbesar, Piala Dunia 1986.

Kini, Messi pun menguasai isu sebagai pemain hebat dunia, bahkan sudah ditandai dengan Ballon d'Or. Dia tinggal mengawinkan isu itu dengan momen terbesar di Piala Dunia 2010 yang segera tiba. Jika sukses tampil bagus dan membawa Argentina juara, maka dia akan benar-benar dibaptis sebagai Maradona baru. Sang mesias yang membawa kebahagiaan dan kebanggaan Argentina yang belum lama dihajar krisis moneter.

Kaka: Madrid Harusnya Atasi Barca


MADRID, — Bintang Real Madrid, Ricardo Kaka, menyatakan bahwa timnya saat ini lebih baik dibandingkan ketika mereka kalah saat melawan Barcelona pada tahun lalu. Madrid semestinya bisa menang dan Kaka menginginkan juara Liga Champions.

Meski telah bertabur pemain-pemain bintang kelas dunia, "Los Galacticos" belum menjadi seperti harapan banyak orang. Kehadiran Kaka dan Cristiano Ronaldo ternyata belum mampu mengangkat tim tersebut setinggi langit.

"El Real" bahkan sudah tersingkir lebih dulu dalam kompetisi Piala Raja Spanyol. Ketika bertandang ke Camp Nou, November lalu, duet pemain terbaik dunia itu juga tak mampu menyelamatkan timnya dari kekalahan.

"Semua orang mengatakan, mereka (Barcelona) adalah tim terbaik. Namun menurutku, kami seharusnya bisa memenangi pertandingan itu karena kami telah tumbuh menjadi lebih baik dari sebelumnya," kata mantan pemain AC Milan tersebut.

Kini Madrid harus meninggalkan impian mereka untuk menyamai rekor Barca, yang menjadi tim Spanyol pertama peraih tiga gelar juara dalam semusim dan pertama dunia penyabet enam trofi tahun lalu. Madrid harus obyektif dengan sasarannya musim ini, dan Kaka akan lebih senang jika mereka menjadi kampiun Liga Champions dalam final di Santiago Bernabeu, 22 Mei 2010.

"Akan merupakan impian indah jika bisa memenangi gelar Liga Champions di Bernabeu. Kami akan melakukan segalanya untuk bisa masuk final dan berhasil menang di kandang sendiri. Ini merupakan gelar paling bergengsi yang pantas dimenangkan di Eropa," ujar pemain asal Brasil ini kepada AS.

Madrid sampai saat ini masih menjadi klub yang paling banyak mengoleksi piala Liga Champions, yakni dengan 9 gelar. Jika mereka juara di Bernabeu nanti, maka mereka akan menggenapi prestasi dan menjadi tim pertama dengan 10 titel level Eropa tersebut.

Pep: Barcelona Belum Juara


BARCELONA, - Pelatih Barcelona, Josep "Pep" Guardiola, mengatakan, keberhasilan tim melewati paruh pertama Divisi Primera musim ini (19 laga) dengan rekor tak terkalahkan tak berarti apa-apa baginya. Ia malah akan menuntut tim bekerja lebih keras di paruh kedua, karena bagaimanapun juga, meski menguasai klasemen dengan 49 poin, Barcelona belum juara dan tantangan akan semakin berat.

Barcelona melewati paruh pertama dengan membukukan 15 kemenangan dan empat hasil imbang. Selama periode itu, mereka membuat 49 gol dan kebobolan sepuluh gol. Pencapaian itu menjadikan Barcelona tim paling produktif mencetak gol sekaligus paling sedikit kebobolan.

Kemenangan terakhir Barcelona di paruh pertama diperoleh saat menjamu Real Valladolid, Sabtu (23/1/2010). Barcelona menutup laga itu dengan kemenangan 3-0 berkat gol Xavi, Daniel Alves, dan Lionel Messi.

Namun, seperti kata Guardiola, kompetisi di paruh kedua akan sangat ketat. Secara khusus, pesaing berat mereka, Real Madrid, dipastikan akan semakin solid dan berusaha mengikis selisih delapan angka. Selain itu pergerakan tim-tim di zona degradasi juga akan berdampak pada peningkatan persaingan di level tengah dan atas klasemen.

"Kami bermain sebaik musim lalu. Tak ada yang salah dengan penyelesaian. Namun, (prediksi menjadi juara) hanyalah anekdot, karena ada banyak pertandingan tersisa. Pada akhir paruh pertama musim lalu, kami memiliki keunggulan 12 poin dan kami masih harus menang di Santiago Bernabeu (markas Madrid) untuk memenangi liga," paparnya.

"Mengakhiri musim dengan rekor tak terkalahkan tak memberi Anda gelar apa pun. Yang terpenting adalah kamui terus agresif dan memainkan gaya kami," tandasnya. (GL)

Bantai Valladolid, Barcelona Jauhi Madrid


VALLADOLID, - Barcelona sukses memperpanjang jarak dari Real Madrid, setelah membantai Real Valladolid 3-0 dalam lanjutan Divisi Primera, Sabtu atau Minggu (24/1) dini hari WIB. Gol Barcelona diciptakan Xavi Hernandez di menit ke-20, Daniel Alves menit ke-22, dan Lionel Messi menit ke-56.

Dengan hasil ini, perbedaan poin antara "El Barca" dengan Madrid menjadi delapan poin. Madrid masih bisa memangkas selisih poin tersebut, jika anak-anak Manuel Pallegrini besok, Minggu (24/1), mampu menaklukan Malaga di Santiago Bernabeu.

Sejak awal pertandingan, Barcelona memang tampil impresif dan mendominasi. Anak-anak Catalan mampu melakukan penguasaan bola sampai dengan 70%.

Di menit ke-20 Xavi Hernandez sukses menaklukan Justo Villar, kiper Valladolid. Tendangan Xavi dari dalam kotak penalti mampu membawa Barca unggul. Gol ini sendiri merupakan hasil serangan balik yang cepat dari kubu Barcelona.

Selang dua menit kemudian giliran bek sayap asal Brasil Daniel Alves yang menjebol gawang Valladolid melalui sebuah tendangan dari sudut yang cukup sulit. Alves sukses menyelesaikan umpan dari Lionel Messi.

Di babak kedua, tepatnya pada menit ke-56, giliran Lionel Messi menambah keunggulan "El Barca" menjadi tiga gol. Tembakan kaki kiri Messi dari dalam kotak penalti, mampu menjebol gawang Valladolid.

Bagi Messi sendiri, ini merupakan golnya yang ke-15 di Divisi Primera La Liga. Pemain asal Argentina tersebut kini mengungguli David Villa dengan selisih satu gol dalam daftar pencetak gol terbanyak.

Sedangkan bagi Barcelona, kemenangan ini mengantarkan mereka sebagai juara paruh musim. Anak-anak Catalan ini memang pantas meraih gelar tersebut, karena sampai dengan pekan ke-19, Zlatan Ibrahimovic dkk belum terkalahkan oleh tim mana pun.

Susunan Pemain
Valladolid: Justo Villar, Luis Prieto, César Arzo, Alberto Marcos, Pedro Lopez, Carlos Lazaro, Borja, Diego Da Silva Costa, Fabian Canobbio, Jonathan Sesma Gonzalez, Marquitos

Barcelona: Víctor Valdes, Carles Puyol, Gerard Pique, Eric Abidal, Daniel Alves, Seydou Keita, Andrés Iniesta, Xavi, Thierry Henry, Zlatan Ibrahimovic, Lionel Messi

Kaka Bersyukur Kalah Mahal dari Ronaldo


MADRID, - Gelandang Real Madrid, Ricardo Kaka, merasa bersyukur dibeli klub itu dengan harga lebih rendah dari Cristiano Ronaldo. Sebab, harga tinggi itu akhirnya membebani Ronaldo.

Kedua pemain bintang ini dibeli Madrid pada awal musim lalu. Ronaldo dibeli dari Manchester United dengan harga 94 juta euro. Sedangkan harga Kaka hanya 65 juta euro.

"Kami tak pernah membicarakan masalah ini di ruang ganti. Ini sesuatu yang jadi makanan fans dan media. Aku tak mau melihat seberapa besar hargaku. Aku hanya memikirkan bagaimana bermain lebih baik. Selain itu, aku bahagia Ronaldo dihargai lebih mahal," terang Kaka.

"Menjadi pemain termahal tak mudah karena harus membawa beban dan terus mendapat tekanan. Setiap orang akan selalu membicarakannya," tambahnya.

Menurut Kaka, Ronaldo tetaplah pemain berharga. Manchester United menjadi lebih lemah tanpa dirinya.

"Ronaldo juga tak kecewa dengan harapan yang terlalu besar kepadanya. Dia juga tak terganggu oleh harapan publik yang menginginkannya membawa keajaiban setiap saat," ujar Kaka.

Pemain berumur 27 tahun asal Brasil tersebut menambahkan, "Kupikir Ronaldo telah membuktikan bahwa dia pantas dibeli semahal itu. Aku suka dia berada di timku, bukan di Manchester United. Musim ini, MU akan sadar betapa berharganya Ronaldo buat mereka. Kepergianya ke Madrid hanya memperlemah mereka." (GL)

Puyol-Xavi Demo Tolak Robinho


BARCELONA, - Media-media Inggris dan Spanyol memberitakan, pemain Barcelona, Carles Puyol dan Xavi Hernandez menghadap klub dan meminta mereka membatalkan rencana membeli penyerang Manchester City. Menurut mereka, skuad Barcelona sudah lengkap dan karenanya, kedatangan Robinho dinilai bakal merusak keharmonisan kamar ganti.

Pelatih Josep "Pep" Guardiola sudah lama tertarik kepada Robinho. Awal musim ini, Barcelona pun berusaha memenuhi hasrat Pep dan membuka negosiasi dengan City untuk Robinho. Sayangnya, usaha mereka kandas karena City ngotot mempertahankan Robinho.

Memasuki paruh kedua musim ini, sikap City terhadap Robinho berubah. Pelatih Roberto Mancini kecewa kepada Robinho dan serius mempertimbangkan penjualan. Menurut media Inggris dan Spanyol, Barcelona merespons situasi itu dengan menyiapkan proposal penawaran baru untuk Robinho.

City disebut sangat antusias dengan reaksi Barcelona. Pasalnya, mereka berharap bisa menjual Robinho dan sebagai gantinya akan mendapatkan Bojan Krkic. Untuk itu, City bahkan siap bernegosiasi dengan Barcelona untuk tawaran peminjaman dengan opsi pembelian di akhir musim.

Namun, dengan munculnya aksi penolakan dari pemain senior dan berpengaruh seperti Puyol dan Xavi, dinilai akan membuat Pep dan klub berubah pikiran. Bagi City, penolakan Barcelona akan memaksa mereka bernegosiasi dengan Benfica dan Santos, yang juga menginginkan Robinho. (DM)